Skip to main content
x
forum Diskusi Publik

"Menakar Kebebasan Ormas dalam Perspektif Bhineka Tunggal Ika"

Lensabengkulu.com, Bandung - Pada Selasa, 27 Agustus 2019, pukul 10.00 s.d 12.30 WIB, di Gedung Ormas, Jalan Raya Soreang Kab. Bandung, Jawa Barat, berlangsung kegiatan diskusi publik dengan tema “Menakar Kebebasan Ormas dalam Perspektif Bhinneka Tunggal Ika”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Prima Potensia Indonesia (PPI), dihadiri sekitar 50 orang dari elemen pemuda dan mahasiswa, serta masyarakat umum. Bertindak selaku nara sumber, yaitu Dr. Haneda Sri Lastoto, MH (Kepala Perwakilan Ombusman Jabar), Drs. Agus Gani (Kabid Wasbang Kesbangpol Jabar) dan Ruby Ruhuddien, SS (Tokoh Pemuda Kab. Bandung).

B

Kepala Perwakilan Ombudsman Jabar, Hanida Sri Lastoto mengatakan Ombudsman secara kelembagaan tidak melihat adanya maladministasi pada proses perpanjangan SKT FPI di kemendagri. Karena, pada faktanya memang yang terjadi adalah FPI belum melengkapi persyaratannya. Jadi bukan faktor politis.

Ia juga mengatakan akan pentingnya akses pendidikan bagi para pegiat/pengurus ormas agar memiliki pengetahuan dan ilmu yg cukup. Karena, ormas merupakan salah satu unsur demokrasi yang sangat penting. Jika kita melihat ormas Serikat Buruh di Inggris, mereka tidak masuk parlemen tapi pengaruhnya sangat besar di parlemen maupun kabinet.

"Ombudsman hadir sebagai lembaga yang membantu proses hukum yg dilaporkan. Dengan adanya ombudsman bisa memonitor perkembangan kasus yg dilaporkan. Pelibatan masyarakat sangat diperlukan. Contoh yang terjadi baru-baru ini ketika puskesmas tidak memberikan pinjaman ambulance kepada jenazah sehingga ada ayah yang menggendong jenazah anaknya, itu karena puskesmas berpatokan pada SOP bahwa ambulance hanya untuk pasien yang sakit, human jenazah. Setelah ditelusuri ternyata SOP tsb bertentangan dengan aturan diatasnya. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat sangat perlu", ungkapnya.

Tambahnya, Ombudsman saat ini memiliki aplikasi LAPOR maupun jabar quick response untuk menerima aduan.

Kabid Wasbang Kesbangpol Jabar Agus Gani dalam penyampaiannya, Negara ini dibangun di atas beribu suku dan bangsa. Ada Bhineka tunggal ika yg menjadi pemersatu Kita semua. Secara ideologi dan filosofi sudah tidak Ada masalah. Namun yg menjadi tantangan adalah pelaksanaannya. Segala masalah yg ada tidak akan selesai hanya oleh pemerintah, atau ormas, semua harus bersatu.

"Tujuan ormas yaitu untuk berkontribusi kepada negara. Kesbangpol memiliki fungsi untuk membina setiap ormas di seluruh Indonesia. UU menjamin kebebasan kita untuk memilih partai atau ormas. Diberikan kebebasan untuk menyalurkan pendapat. Kemendagri saat ini sedang mengevaluasi seluruh ormas, apakah dia berkontribusi positif atau tidak. Akan diklasifikasi ormas A, B, C, sebagaimana kampus yang sudah terakreditasi A, B atau C", sampainya.

"Kebhinekaan jangan dipertentangkan lagi. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan merupakan potensi untuk menghadirkan keindahan. Ketua umum Muhammadiyah beberapa waktu lalu mengatakan Indonesia sudah bersyariah dari dulu. Sila kesatu adalah pengamalan syariah, yaitu berdasarkan Ketuhanan yg Maha Esa. Jika kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai toleransi, insyallah tidak ada yang ribut-ribut antara satu kelompok dan lainnya", jelasnya.

Sementara Tokoh Pemuda Soreang, Ruby Ruhuddien mengatakan semua ormas sejatinya sama tujuannya, ingin berkontribusi pada negara. Ormas dengan komunitas lain harus bersinergi. Namun jangan sampai idealisme jadi luntur. Karena ormas mewakili masyarakat.

"Banyak contoh bahwa ormas sudah banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat. Di pelabuhan ratu, ormas dan pemerintah serta dunia usaha bisa bersinergi untuk membangun dunia wisata disana. Banyak hal positif yang bisa digali oleh ormas. Jika kita melihat perbedaan, pasti banyak. Tapi jika kita melihat sisi positif, konflik akan menyatukan kedua belah pihak. Tapi jika kita tidak melihatnya, konflik justru akan merugikan kita dari semua segi kehidupan, karena baik ormas, masyarakat, maupun pemerintah akan dirugikan", paparnya.

Sesi tanya jawab

Abah Ading dari Baleendah menanyakan bagaimana kewenangan ormas. Baru-baru ini kami baru mendapat informasi bahwa ada yang mau membangun Gedung, kepala desa masih menunggu ormas untuk perizinannya. Apakah betul Ada ormas yg bisa memiliki kewenangan sampai sebesar itu? 

Dadang Hermawan dari Banjaran menanyakan, apakah ada tindakan dari pemerintah terhadap ormas yang ugal-ugalan maupun urakan?

Asep dari Kopo menanyakan bagaimana tindakan pemerintah atas adanya ormas asing? Ormas banyak yang pamornya turun sekarang, yg lagi naik itu ormas keagamaan. Kemudian ada juga ormas kebudayaan. Budaya adalah benteng terakhir sebuah bangsa. Ada paseban (paguyuhan seni budaya kab. Bandung) tapi tampaknya ormas kebudayaan kurang diberdayakan. Bagaimana jika ada kumpul-kumpul untuk meningkatkan budaya.

Jawaban:

Agus: secara kelembagaan, Kesbangpol kemendagri memiliki kewenangan untuk menindak secara administratif, namun jika melakukan tindakan kriminal, itu ranahnya polri. Dulu namanya HMI pembinaannya bagus, GMNI pembinaannya bagus, tapi sekarang tidak. Sehingga banyak oknum yang membawa nama organisasi dan bertindak di luar visi organisasi. Ormas adalah Mitra strategis pemerintah. Harusnya pemerintah sampai tingkat desa, secara tegas menghindari hal-hal semacam itu. Kenapa pemerintah desa takut kepada ormas. Terkait ormas asing, memang menjadi tantangan tersendiri. Saat ini Saha sudah ada ratusan pekerja dari Cina pada proyek kereta cepat di Bandung. Bisa jadi ada ormas dari Cina juga. 

Haneda Sri Lestoto mengatakan kelompok-kelompok yang merasa berkuasa dan bahkan perizinan harus lewat mereka, harus ditelusuri mereka ormas mana. Karena, jika berdasarkan UU ormas, sebuah ormas harus berbadan hukum dan memenuhi syarat. Di UU ormas ada aturannya. Kesbangpol harus punya filter agar tidak mudah memberikan izin pada ormas-ormas itu. Ormas harus terstruktur betul AD ARTnya. 

Sementara Ruby tokoh Pemuda mengatakan betul budaya adalah benteng terakhir sebuah bangsa. Ormas harus dekat dengan budaya. Karena baik keagamaan maupun ormas lainnya sebenarnya dekat dengan seni budaya. Komunitas pecinta budaya Indonesia di luar negeri sangat banyak. (Rls)

Facebook comments