Skip to main content
x
. Jasa Raharja Dorong Pemanfaatan AI untuk Prediksi dan Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas

Jasa Raharja Dorong Pemanfaatan AI untuk Prediksi dan Pencegahan Kecelakaan Lalu Lintas

BANDUNG – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara Jasa Raharja dalam melindungi masyarakat. Teknologi ini tak hanya digunakan untuk mempercepat pelayanan kepada korban kecelakaan, tetapi juga untuk membaca  pola  risiko  dan  membantu  mencegah  kecelakaan  lalu  lintas sebelum terjadi.

Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero), Muhammad Awaluddin, memaparkan arah transformasi tersebut dalam sesi panel “AI Mobility & Transportation Ecosystems” pada AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 di Aula Timur Institut Teknologi Bandung, pada Kamis (27/08/2026).

Dalam   forum   yang   mempertemukan   regulator,   akademisi,   pelaku   industri transportasi, dan praktisi teknologi itu, Awaluddin mengatakan bahwa pemanfaatan AI   harus   bermuara   pada   perlindungan   publik   yang  lebih  cepat,  tepat,  dan berorientasi pada pencegahan.

“Transformasi   digital   harus   membawa   perubahan   nyata   terhadap   cara   kita melindungi masyarakat. Dengan dukungan data dan AI, Jasa Raharja ingin bergerak dari pendekatan yang bersifat responsif menuju perlindungan yang semakin prediktif, preventif, dan preskriptif,” papar Awaluddin.

Menurut Awaluddin, Jasa Raharja memiliki ekosistem pelayanan yang terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan. Antara lain Kepolisian, Kementerian Perhubungan,  pemerintah  daerah,  rumah  sakit,  Samsat,  serta  institusi  terkait lainnya. Kolaborasi dan integrasi data dalam ekosistem tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem perlindungan publik berbasis teknologi.

Salah satu implementasi yang telah dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi dalam JR-Care untuk mendukung percepatan pelayanan kepada korban kecelakaan. Melalui proses digital dan verifikasi dokumen, data korban serta informasi medis dapat diproses secara lebih cepat, konsisten, dan akurat. Dengan begitu, penerbitan surat jaminan bagi korban dapat dilakukan lebih efisien.

“Teknologi harus membuat korban semakin mudah memperoleh pelayanan. Prinsipnya tetap berpusat pada manusia. AI membantu proses pengambilan keputusan, tetapi empati, akuntabilitas, dan kepentingan korban harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi,” kata Awaluddin.

Selain memperkuat layanan JR-Care, Jasa Raharja tengah mengembangkan tiga 
fokus pemanfaatan AI. Pertama, AI-Based Accident Prediction and Prevention System untuk memetakan wilayah rawan, mengenali pola kecelakaan, dan memberikan rekomendasi intervensi keselamatan.

Kedua, AI Predictive Collection untuk mendukung pemetaan tingkat kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan atau PKB-SWDKLLJ. Ketiga, AI Medical Claim and Fraud Intelligence   untuk   mendukung   validasi   klaim   medis,   mendeteksi   anomali, menentukan prioritas pemeriksaan, serta memperkuat tata kelola pelayanan secara objektif dan akuntabel.

Namun, Awaluddin mengingatkan bahwa peningkatan pemanfaatan AI harus diikuti dengan tata kelola yang kuat. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi penggunaan teknologi, mitigasi bias algoritma, serta pengawasan manusia merupakan elemen penting untuk menjaga kepercayaan publik.

“Kecepatan inovasi tidak boleh melampaui kesiapan tata kelolanya. AI harus dikembangkan secara aman, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan karena teknologi ini digunakan untuk mendukung pelayanan yang menyangkut keselamatan dan perlindungan masyarakat,” tegasnya.

Lebih  lanjut,  ia  menyampaikan  bahwa  persoalan  keselamatan  transportasi tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu moda transportasi. Dibutuhkan integrasi dan kolaborasi antara pemerintah, regulator, operator transportasi, industri asuransi sosial, fasilitas kesehatan, akademisi, dan pengembang teknologi.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar data yang berasal dari berbagai sektor dapat diolah menjadi pemahaman bersama mengenai pola mobilitas dan risiko keselamatan. Dengan demikian, kebijakan serta program pencegahan kecelakaan dapat disusun secara lebih akurat dan berbasis bukti. “Masa depan perlindungan publik  berbasis  AI  hanya  dapat  dibangun  melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan para inovator,” ujar Awaluddin.

Melalui partisipasi dalam AI Indonesia Initiative Forum 2026, Jasa Raharja berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan  untuk menghadirkan pelayanan yang semakin cepat, akurat, mudah diakses,  serta  mendukung  terciptanya  perjalanan  yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan.

Facebook comments